Filosofi ‘Among’ di SMAN 6 Jogja: Cara Unik Mendidik Tanpa Menghakimi

Dunia pendidikan modern sering kali terjebak dalam sistem yang terlalu mengutamakan hasil akhir berupa angka, sehingga sering kali melupakan proses kemanusiaan di dalamnya. Namun, di tengah hiruk-pikuk standarisasi nilai, SMAN 6 Jogja muncul dengan pendekatan yang sangat berbeda dan menyejukkan. Sekolah ini menerapkan sebuah nilai luhur yang diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu filosofi Among. Pendekatan ini bukan sekadar metode mengajar, melainkan sebuah gaya hidup di lingkungan sekolah yang mengutamakan asah, asih, dan asuh. Dengan prinsip ini, guru tidak lagi memposisikan diri sebagai penguasa kelas yang ditakuti, melainkan sebagai pamong atau pembimbing yang menuntun kodrat anak dengan penuh kasih sayang tanpa memberikan penghakiman yang menyudutkan.

Penerapan filosofi Among di SMAN 6 Jogja bermula dari pemahaman bahwa setiap siswa lahir dengan keunikan dan bakat yang berbeda-beda. Dalam pandangan sekolah ini, tidak ada siswa yang bodoh; yang ada hanyalah siswa yang belum menemukan cara belajar yang tepat atau minat yang sesuai. Oleh karena itu, para pengajar di sini dilatih untuk memiliki kesabaran ekstra dalam mengobservasi perkembangan setiap individu. Guru bertindak sebagai pendamping yang berdiri di belakang (tut wuri handayani) untuk memberikan dorongan, berada di tengah untuk membangun semangat, dan berada di depan untuk memberikan teladan. Hal inilah yang membuat suasana belajar di sekolah ini terasa sangat inklusif dan hangat, jauh dari kesan kompetisi yang tidak sehat.

Lebih lanjut, cara unik mendidik tanpa menghakimi ini tercermin dalam cara sekolah menangani pelanggaran disiplin atau penurunan nilai akademik. Alih-alih memberikan hukuman fisik atau sanksi sosial yang mempermalukan siswa, SMAN 6 Jogja lebih mengedepankan dialog persuasif. Melalui semangat Among, guru bimbingan konseling dan wali kelas akan duduk bersama siswa untuk mencari akar permasalahan yang dihadapi. Pendekatan ini membangun rasa percaya diri siswa karena mereka merasa didengarkan dan dihargai martabatnya. Ketika seorang siswa merasa aman secara emosional, motivasi internal untuk memperbaiki diri akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa. Hasilnya, tingkat stres siswa menurun secara signifikan, dan kedekatan emosional antara guru dan murid menjadi sangat kuat.