Yogyakarta telah lama dihantui oleh teror klithih, namun di balik itu muncul gerakan perlawanan bawah tanah yang dikenal sebagai Klithih Hunter. Gerakan ini terdiri dari kelompok-kelompok siswa dari berbagai SMA, termasuk SMAN 6 Jogja, yang merasa geram karena teman atau lingkungan mereka menjadi korban kekerasan geng motor jalanan. Alih-alih melapor kepada pihak berwajib, para siswa ini mengambil inisiatif untuk melakukan aksi “perburuan” terhadap anggota geng motor yang dicurigai sebagai pelaku klithih. Meskipun didasari niat untuk melindungi diri, aksi ini sering kali berubah menjadi siklus balas dendam yang tidak berkesudahan.
Fenomena Klithih Hunter biasanya beroperasi pada malam hari saat jalanan mulai sepi. Para siswa ini melakukan konvoi dengan rute-rute yang dianggap rawan untuk memancing kemunculan geng motor. Ketegangan memuncak saat kedua kelompok ini bertemu di jalanan, yang sering kali berujung pada kejar-kejaran dan konflik fisik yang sangat berbahaya. Bagi para siswa ini, menjadi pemburu adalah bentuk keberanian dan pembelaan harga diri kelompok mereka. Namun, tindakan main hakim sendiri ini justru menciptakan lapisan masalah keamanan baru di Yogyakarta, di mana batas antara korban dan pelaku kekerasan menjadi semakin kabur.
Masalah utama dari gerakan Klithih Hunter adalah potensi salah sasaran yang sangat tinggi. Sering kali, orang asing yang tidak bersalah atau warga yang sekadar melintas dituduh sebagai anggota geng motor dan menjadi sasaran kemarahan para siswa. Hal ini memicu paranoia di tengah masyarakat Jogja yang merasa tidak aman baik dari teror klithih maupun dari aksi balasan para pelajar. Selain itu, keterlibatan siswa dalam aksi malam hari ini berdampak buruk pada performa akademik dan kesehatan mental mereka. Mereka terjebak dalam pola pikir agresif yang menganggap kekerasan adalah satu-satunya solusi untuk menghentikan kejahatan.
Pihak sekolah dan kepolisian DIY terus bekerja keras untuk membubarkan kelompok Klithih Hunter dengan memberikan pemahaman bahwa keamanan publik adalah otoritas negara. Program pembinaan pemuda dan patroli keamanan terpadu mulai ditingkatkan untuk memberikan rasa aman tanpa perlu keterlibatan siswa secara langsung di jalanan. Guru dan orang tua diimbau untuk lebih ketat mengawasi aktivitas anak di malam hari agar tidak bergabung dalam kelompok perburuan ini. Dialog antar sekolah harus diperkuat untuk memutus sentimen permusuhan yang sering kali menjadi bahan bakar bagi munculnya kelompok-kelompok vigilante remaja tersebut.