Maraknya fenomena ketergantungan terhadap layar digital di kalangan generasi muda mengundang keprihatinan mendalam dari berbagai komunitas seni di Yogyakarta. Sebagai bentuk respons kritis terhadap realitas sosial tersebut, sebuah kelompok seni peran menyelenggarakan pementasan teater remaja yang mengangkat isu keterasingan manusia di dunia nyata akibat terlalu fokus pada dunia maya. Karya seni pertunjukan ini dikemas secara satire untuk menyindir kebiasaan masyarakat modern yang lebih peduli pada interaksi digital di media sosial ketimbang berkomunikasi langsung dengan keluarga di sekitar mereka.
Naskah drama yang dimainkan berpusat pada kehidupan sebuah keluarga di mana setiap anggotanya tidak lagi saling bertegur sapa karena sibuk dengan perangkat genggam masing-masing. Melalui pementasan teater remaja ini, para aktor muda menampilkan visualisasi gerak tubuh yang kaku menyerupai robot, sebuah simbol bagaimana teknologi telah merenggut kehangatan ekspresi manusia yang alami. Penggunaan tata lampu yang didominasi warna biru pucat di atas panggung memperkuat atmosfer dingin dan hampa, menggambarkan radiasi layar gawai yang kini mengontrol sebagian besar waktu hidup manusia modern sehari-hari.
Salah satu daya tarik utama dari pertunjukan ini adalah dialog-dialognya yang penuh dengan ironi dan humor segar namun menusuk kalbu penonton. Sutradara pertunjukan berhasil mengemas pementasan teater remaja tersebut menjadi media refleksi diri bagi para pengunjung yang mayoritas berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Penonton diajak melihat betapa konyolnya ketika momen makan bersama di sebuah meja makan berubah menjadi sunyi total hanya karena semua orang sibuk berburu tanda suka dan komentar di aplikasi ponsel pintar mereka.
Melalui ruang seni pertunjukan ini, pesan moral mengenai pentingnya membatasi waktu penggunaan layar gawai tersampaikan secara lebih humanis tanpa terkesan menceramahi. Setelah menyaksikan pementasan teater remaja tersebut, banyak penonton yang tersadar akan pentingnya melakukan detoksifikasi digital untuk mengembalikan kualitas hubungan sosial yang nyata. Seni teater terbukti masih menjadi instrumen kritik sosial yang sangat ampuh dan relevan dalam menyuarakan kegelisahan zaman, terutama di tengah gempuran arus modernisasi yang menggerus nilai kebersamaan.
Kegiatan pelestarian seni peran di kalangan pelajar ini juga menjadi wadah positif untuk menyalurkan energi kreatif mereka ke hal-hal yang lebih produktif di dunia nyata. Dengan terlibat aktif dalam pementasan teater remaja, para siswa belajar berkolaborasi, mengasah kepekaan empati, serta melatih rasa percaya diri di depan publik tanpa bayang-bayang identitas palsu internet. Gerakan budaya seperti ini perlu terus didukung agar generasi muda tetap membumi, menghargai proses interaksi tatap muka, dan tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus algoritma digital.