Transisi model pembelajaran dari tatap muka sepenuhnya menjadi model hibrida membawa banyak kemudahan, namun juga menyimpan masalah kesehatan yang serius, yakni Sleep Deprivation atau kurang tidur kronis di kalangan siswa. Banyaknya tugas digital yang harus dikerjakan di malam hari, ditambah dengan jadwal sekolah fisik di pagi hari, seringkali membuat jam istirahat remaja berkurang drastis. Ketika tubuh tidak mendapatkan tidur yang cukup, fungsi kognitif, daya ingat, hingga stabilitas emosional akan terganggu. Siswa yang mengantuk di kelas tidak hanya gagal menyerap materi secara optimal, tetapi juga lebih rentan terhadap stres dan masalah mental lainnya.
Fenomena Sleep Deprivation ini seringkali dianggap remeh sebagai bagian dari dinamika belajar, padahal dampaknya sangat jangka panjang. Remaja membutuhkan setidaknya 8 hingga 10 jam tidur untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak mereka. Namun, kenyataannya banyak siswa yang hanya tidur selama 4 hingga 5 jam karena tuntutan tenggat waktu tugas yang bersamaan. Penggunaan gawai sebelum tidur untuk mengerjakan tugas hibrida juga memperparah kondisi ini, karena cahaya biru dari layar ponsel atau laptop dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur manusia.
Untuk mencari solusi atas Sleep Deprivation, diperlukan manajemen waktu yang lebih baik dari sisi siswa dan kebijakan yang lebih manusiawi dari sisi sekolah. Guru perlu berkoordinasi satu sama lain agar tidak memberikan tugas berat dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, penting untuk memberikan edukasi mengenai higiene tidur (sleep hygiene) kepada siswa, seperti mematikan perangkat elektronik minimal 30 menit sebelum tidur. Memprioritaskan istirahat bukanlah tanda malas, melainkan strategi cerdas untuk menjaga performa otak tetap tajam saat menghadapi ujian dan aktivitas harian lainnya.
Selain faktor teknis tugas, gaya hidup dan pola belajar sistem kebut semalam juga menjadi kontributor utama Sleep Deprivation. Siswa perlu diajarkan cara belajar yang dicicil sedikit demi sedikit daripada memborong materi di malam terakhir. Orang tua juga harus berperan dalam memantau jam tidur anak agar tidak terganggu oleh aktivitas yang tidak perlu di media sosial setelah pengerjaan tugas selesai. Kesehatan fisik adalah fondasi dari prestasi akademik; tanpa tubuh yang bugar dan tidur yang cukup, segala upaya belajar akan menjadi kurang efektif dan melelahkan.