Yogyakarta selalu memiliki cara yang istimewa untuk melestarikan kebudayaannya, bahkan di lingkungan pendidikan menengah atas. Setiap hari Kamis Pahing berdasarkan penanggalan Jawa, sebuah pemandangan unik terlihat di lingkungan sekolah di mana seluruh penghuni melaksanakan Upacara Busana Tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap hari jadi Kota Yogyakarta. Pada hari tersebut, suasana sekolah yang biasanya modern berubah menjadi sangat kental dengan nuansa tradisional, di mana para siswa, guru, dan staf mengenakan pakaian adat Jawa yang lengkap, menciptakan atmosfer pendidikan yang sangat harmonis dengan kearifan lokal.
Keunikan Upacara Busana Tradisional ini terletak pada semangat para siswa dalam mengenakan kain jarik, kebaya bagi siswi, dan surjan lengkap dengan blangkon bagi siswa laki-laki. Meskipun menggunakan pakaian adat, aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung dengan normal, membuktikan bahwa nilai-nilai tradisi tidak menghalangi kemajuan akademik. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan akan identitas budaya Yogyakarta sejak dini. Siswa diajarkan untuk menghargai setiap detail busana tradisional sebagai warisan leluhur yang memiliki filosofi tentang kesantunan, kesabaran, dan keindahan budi pekerti.
Selama prosesi Upacara Busana Tradisional, penggunaan bahasa Jawa krama inggil seringkali juga digalakkan dalam komunikasi sehari-hari di lingkungan sekolah pada hari tersebut. Hal ini sangat membantu siswa dalam melestarikan bahasa daerah yang mulai jarang digunakan oleh generasi muda di perkotaan. Guru-guru memberikan contoh langsung dalam berinteraksi, sehingga siswa merasa lebih akrab dengan etika pergaulan ala Jawa yang mengedepankan tata krama. Kegiatan rutin ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat umum dan seringkali menjadi objek observasi bagi peneliti budaya maupun wisatawan yang tertarik melihat integrasi budaya dalam sistem pendidikan formal.
Selain aspek pelestarian budaya, Upacara Busana Tradisional setiap Kamis Pahing juga berdampak positif pada ekonomi kreatif masyarakat sekitar sekolah. Banyak perajin busana adat, persewaan pakaian, hingga penjual aksesoris tradisional mendapatkan pesanan rutin dari warga sekolah. Secara tidak langsung, sekolah turut menggerakkan roda ekonomi lokal melalui kebijakan budaya ini. Siswa pun belajar tentang pentingnya mendukung industri lokal dan menghargai karya seni para perajin tradisional yang telah menjaga kelestarian wastra nusantara dengan penuh ketelatenan.